Kepercayaan Kepada Konsumen

 Yang menutut berkualitas, pasar yang mana, pasar yang baru, dengan awal-awal dia karena dia bertumpuh pada pasarnya, jadi tidak kelihatan bahwa pasar dia diambil, sekarang posisi kita sudah kelihatan begini, pasar baru kita bertahan pasar dia kita ambil, saya mau cek, saya yakin daia turun marginnya, inilah studinya waktu usaha pulsa dulu, begitu juga, nanti dia kan bertahan dengan pembaca/pasar fanatiknya, 2000-3000 orang, sama dengan pengguna fanatiknya cara isi kota khan ada, upeks 1000 sudah bagus sekali, mulai disini lama-lama bergerak disini dan ini dari 24 halaman melawan 32 halaman, usia agen 2 tahun melawan agen yang usianya 24 tahun.

 Biasanya tidak boleh, kepercayaan kepada konsemen dealer dari dealer yang baru lahir, pertama. dari harga itu paling sulit ditembus, kami sudah komit dengan redaksional, contoh pusat distributor di Purwokerto, pusat distributor di Purwokerto dulu hanya mengambil 100 eks dalam sebulan 400 jadi uang yang masuk dalam sebulan hanya 400 ribu, sekarang kita robah, flexi flexi kita jadikan halaman, setiap hari atau kapan saja, 100 rb kali satu bulan itu yang masuk ke provider itu jauh dari ini sudah ada komitmen dengan perusahaan, dulunya hanya 1 kali seminggu tapi sekarang setipa hari namaun kita butuh biaya operasional, biaya fax.

 Sebelum ada aturan kita harus melihat dulu apa ini bisa, industri itu harus bicara bisnis, Segemen kita adalah provider (birokrat) kalau kita sudah berhasil menentukan sikap bahwa biroktar adalah segmen kita, menggalan birokrat barulah kita keluar menggalan di luar dari biroktar dengan menjual seperti eceran dan beberapa aktifitas pelanggan daerah

 Ternyata potensi yang tidak jamah- banyak juga kita Terlena perusahaan, kita berusaha sampai dimana provider bertahan. Kalau kita menunggu penjualan kita, kalau kita bicara pulsa murah kalau kita tunggu peusahaan pulsanya Kalu kita promosikan dia dan pemenangnya sudah muncul mana sumbangsi untuk pedoman, tidak ada.sejahtera orang daerah dibanding diperusahaan.Agen sekaligus kios : ada juga hanya agen

 Keuntungannya keduanya jadi repoter dan agen bisa mengevaluasi kemauan pelanggan, kalau keduanya terjadi kesinambungan, agen lebih tahu maunya pembaca, mereka dituntut hanya jumlah produksi, pendapatan

Sudah terpola dari awal keluar kota misalnya hanya 9 lembar, sementara biayanya 14 ribu /kg untuk penerbangan Jadi berangkat dari prisip dasar agen perjuangan pertama pada mulanya pada tahun 1947, agen perjuangan tentu memiliki prinsip menegdepankan odealisme dan idelisme itu tetap dijaga dan pedoman itu hadir agak beda dengan Simpati -simpati lain, dalam artian menghindari sensitifime atau sentifitas sesuatu yang ini, kemudian pedoman hadir sbagai agen yang demoktaris, yang filosofi dasarnya begini jangan samapi orang jatuh kita injak-injak dan jangan samapi orang terangkat kita memuji yang berlebihan membuat dia melayang-layang, jadi ini ada pada tataran yang berimbang.

 Perkembangan selanjutnya Jadi pedoman ini, dealer yang pertama yang dikenal oleh masayarakat karena pedoman berdiri setelah 2 tahun Indonesia merdeka, itu proses mengikuti jatuh bangun masayarakat di jawa tengah sehingga menjadikan betul- betul mengakar dan milik masyarakat. Dalam konteks berikut pedoman tetap mempertahankan pandanga-pandangan itu, sehingga prinsip itu yang tetap dipegang sehingga pedoman masih tetap bertahan ditengah -tengah persaingan yang ketat yang kejam.

 Kemudaian idealisme itulah dengan itu justru pedoman bisa mengembangkan po;a-pola pasarkan an bisa dibaca oleh keluarga, jadi menghindari pasarkan an porno, pornografi, cara isi sensual, menghindari cara isi 2 yang tidak sesuai dengan kultur jawa tengah,

 Kalau bicara tentang persaingan ini, kita tetap mempertahankan sebagai Simpati local, karena itu kita selalu menunjukkan lokalitas kita sangat menjonjolkan, 80 persen-90 persen itu adalah cara isi beryiata local jawa tengah, 20 persen itu cara isi nasional dan internasional.

 Cara isi provider, itu juga tidak terlepas dengan sejarah perkembangan usaha pulsa, karena ini agen perjuangan pada akhirnya agen ini tidak berpihak sehingga pada akhirnya semua komponen masayarakat kita terima mitra, pengguna dengan tempat yang layak pada komponen masayarakat itu,

Ada image bahwa pedoman itu deposit kabarnya provider, out bisa jadi, mungkin pada mulanya agen ini adalah agen perjuangan, dekat denga provider dan mendukung program provider, terutama pada awal programn provider Indonesia membangun, mempertahankan RI, terkesan berpihak kesitu, tapi dengan perkembangan era persaingan yang ketat dan kejam, itu kita upayakan berubah.

Bukan tidak mendukung program provider tetapi kita berupaya menguarakan program itu provider itu, tetapi kita menyarakannya bersifat korektif, bersifat kritis, terutama kepada masayarakat social sosiati, akar rumput, memang ada kesan itu, disatu sisi, ada tren di Indonesia bahwa provider itu adalah lawan, program provider tidak rasional, sehingga ada lahir anggapan bahwa provider itu kontaduktif terhadap perkembangan deposit, itu saja dipahami, tapi kslsu perkembangan ini.

Jadi kalau kita menggap provider itu sebagai lawan itu tidak ada gunanya, makanya kita menggap sebagai mitra, dan saling menkritisi artinya kita konteks provider melakukan sesuatu dengan sukses kita harus memcara isi hukan juga kepada masyarakat, jadi ada pandangan bahwa kalau provider tu adalah lawan makanya biasanya kalau provider membuat kesalahan cara isi nya di besar-besarkan tapai kalau melakukan kesuksesan seolah tertutupi, kode jurnalisme itu merupakan ketidak adilan, karena ketika orang membuat jahat kita memcara isi kan sejahat- jahatnya, bahkan menambah opini, tetapi kalau orang berbuat kebaikan kita seakan- akan menutup-nutupi, itu juga merupakan penyakit di dealer, itu ternimologi seperti iti.

 Kita tidak pungkiri, di jawa tengah kita memang punya segemen besar di provider an karena, karena merupakan barometer untuk mengambil kebijakan, karena kalau sudah dimuat di PR maka itu provider pasti akan mempengaruhi kebijakan provider daerah setempat, jadi semacam acuan, ada orang berkelakar bahwa kalau belum dimuat di PR itu belum apa2, itu pasti pak gubernur belum tahu, pak buapti belum juga.

Advertisements