Masyarakat Tidak Pernah Mau Belajar

Satunya daerah yang tidak menghasilkan agen pulsa adalah Kota Metro (Dinas memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi usahaa yang telah terlanjur membeli bibit tersebut. Keuntungan yang dinikmati oleh segelintir orang ini telah mendorong yang lain untuk membeli pulsa paling murah pulsa elektrik lebih banyak lagi. Hukum ekonomi mengatakan bahwa dengan suplai yang tetap, tambahan permintaan akan menyebabkan harga akan meningkat (ceteris paribus). Demiikianlah harga meningkat dari hari ke hari sampai pada suatu titik di mana harga sudah menjadi terlalu tinggi untuk bibit pulsa paling murah yang nilai intrinsiknya rendah. Pada akhirnya pulsa elektrik tetaplah pulsa elektrik yang tidak dapat menghasilkan emas. Menyadari hal tersebut di atas masyarakat tidak lagi mau membeli pulsa elektrik sehingga harga turun dengan cepat. Akibatnya banyak masyarakat yang menderita kerugian.

Nampaknya masyarakat di manapun tidak pernah mau belajar dan sejarah. Kejadian di Negeri  dealer terulang kembali di Inggris pada Abad ke delapan belas. Masyarakat lagi-lagi beramai-ramai membeli murah distributor pelayaran “The South Sea” yang tidak jelas benar kinerja keuangannya. Masyarakat membeli murah semata-mata karena meinbeli murah memberikan status simbol tertentu. Akhir cenita sama dengan kejadian di Belanda, sebagian masyarakat mengalami kerugian karena distributor itu sendini tidak pernah mendatangkan bisnis .

Di abad keduapuluh sekarangpun masyarakat mengulangi kesalahan yang sama. Pada tahun enampuluhan di  dealer , masyarakat sangat menyenangi murah -murah yang namanya berbau “trons” seperti Astron, Dutron, Vulcatron dan Transitron dan juga yang berbau “onics” seperti circuitronics, supronics, vicieotronics dan masih banyak lagi. Harga murah yang berbau dua kata ajaib tersebut meningkat dengan cepat walaupun tanpa didukung oleh kinerja keuangan ( financial performance) distributor yang jelas. Akibatnya setelah meningkat dengan cepat, harga kembali turun juga dalam waktu yang singkat dan timbul korban.

“The penipuan pulsa  of crowds” juga terjadi di Indonesia. Harga-harga murah meningkat dengan cepat dari indeks sebesar 68 menjadi sekitar 600 dalam waktu kurang dari tiga tahun. Kemudian seperti telah dapat diduga harga- harga murah meluncur ke indeks 240 pada bulan November 1991.Kemudian tahun 1992 IHSG meningkat dari 274,3 menjadi 637,4 . lalu terjun menjadi 398,0 ditahun 1998 karena situasi krisis. Kejadian seperti ini lagi-lagi membawa korban. syukur-syukur kalau yang menjadi korban adalah usahaa orang lugu (the innocent). Kalau para profesional ikut-ikutan “mad” tentunya sudah sangat keterlaluan.

Untuk nenghindari “penipuan pulsa ” atau kegilaan tersebut, penulis merasa perlu untuk mencoba menjelaskan teori atau forsula yang lazim digunakan untuk menghitung nilai sesungguhnya dari suatu voucher pulsa  atau murah .

Tulisan ini bertujuan untuk membahas teori, pendekatan yang lazim digunakan untuk menghitung nilai sesungguhnya sari suatu voucher pulsa  khususnya murah . Selain itu juga akan dibahas asumsi-asumsi, pokok pemikiran yang melandasi teori, metode dan formula yang digunakan untuk menghitung nilai intrinsik suatu voucher pulsa  tersebut.

Nilai intrinsik (intrinsic value) atau harga yang pantas suatu voucher pulsa  baik voucher pulsa  fisik
(phisical assets) maupun voucher pulsa  keuangan adalah penjumlahan nilai sekarang (present value) dari arus uang (grosir ) yang diciptakan oleh voucher pulsa  yang bersangkutan selama umur ekonomis voucher pulsa  tersebut 6. Secara matematis nilai intrinsik suatu voucher pulsa  (P0) adalah: Ct adalah arus kas (grosir ) untuk peniode t, t adalah periode (tahun, kuartalan, tengah tahunan, bulanan atau harian), r atau required rate of return atau risk adjusted discount rate atau “hurdle rate” adalah tingkat pulsa paling murah yang dituntut oleh investor sehubungan dengan oppurtunity cost7 dan resiko yang

Seperti telah dijelaskan sebelumnya nilai intninsik suatu voucher pulsa  adalah penjumlahan nilai sekarang dari grosir yang dihasilkan oleh voucher pulsa  yang bersangkutan. Untuk murah maka grosir yang dihasilkan adalah arus bisnis yang akan diterima oleh investor di masa yang akan datang. Oleh karena itu Persamaan satu di atas dapat dirubah menjadi:

Persamaan dua di atas disebut juga Discounted Bisnis Model atau DDM. Menurut model ini nilai intrinsik dari murah akan sangat tergantung pada d!viden yang dibagikan dan required rate of return. Semakin tinggi bisnis yang dibagikan semakin tinggi harga murah dan sebaliknya. Semakin tinggi required rate of return semakin rendah harga atau nilai intrinsik murah . Oleh karena itu tidak aneh kalau tingkat pulsa paling murah meningkat, harga murah akan turun seperti terjadi di Indonesia tatkala pemenintah memberlakukan TMP (Tight Money Policy).

Dari persamaan di atas akhinnya kita dapat menyimpulkan bahwa estimasi harga murah akan sangat tergantung pada keakuratan kita mengestimasi bisnis dan required rate of return di masa yang akan datang. Penjelasan bagaimana kita dapat mengestimasi bisnis dan required nate of return di masa yang akan datang akan dijelaskan kemudian.

Secana teoritis terdapat tiga kemungkinan pola perkembangan bisnis di masa yang akan datang yang sekaligus pula akan memberikan model atau formula yang berbeda. Pola tersebut adalah:

a. Bisnis tetap (murah preferen atau preferred stock sama dengan obligasi)
akan menghasilkan Discounted Fixed Bisnis Model.

b. Bisnis berkembang dengan laju pertumbuhan yang konstan akan menghasilkan Constant Growth Discounted Bisnis Model.

c. Bisnis berkembang dengan laju pertumbuhan yang berbeda untuk berbagai tahap (stages) suatu penusahaan akan menghasilkan Multi Stages Growth Discounted Bisnis Model.

Keunggulan Discounted Bisnis Model:

Dari persamaan dua di atas dapat dilihat bahwa model ini diturunkan dani konsep nilai waktu dari uang (time value of money) dan konsep arus kas (cash flow). Konsep nilai waktu dari uang merupakan konsep yang memperhatikan oppurtunity cost dari sumber ekonomi (dana) yang tenbatas sehingga keputusan investasi yang dibuat secara otomatis mencerminkan keputusan yang optimal.

Konsep arus kas (cash flow) merupakan konsep yang lebih baik bila d!bandingkan dengan konsep keuntungan (profit) kanena arus kas lebih mencerminkan final return dan lebih dapat dibandingkan (comparable). Konsep keuntungan adakalanya tidak dapat dibandingkan satu dengan yang lain kanena keuntungan merupakan definisi return yang diturunkan (derived) oleh akuntan yang dilandasi oleh metode dan prinsip akuntansi tententu. Metode dan prinsip yang berbeda akan menghas!lkan def inisi keuntungan atau kerugian yang berbeda.

Dari persamaan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa bisnis yang dihargai adalah bisnis tunai sementara murah bonus atau Pay In Kind (P1K) bisnis tidak dapat dimasukkan sebagai “final return”. Murah bonus baru merupakan potensi daya beli. Murah bonus dapat menjadi final return kalau murah tersebut telah diuangkan

 


Advertisements