Peningkatan kepuasan nasabah

Perkebunan Propinsi Lampung

a.    Aspek   kesadaran  ditingkatkan  melalui  pengenalan  dan  penyadaran usaha untuk menciptakan Pikiran  Puncak  atas Usaha pulsa elektrik (Top of Mind) melalui program promosi intensif, dan agresif.
b.    Penguatan kesan pada usaha dengan penciptaan asosiasi seperti usaha memiliki  makna  profesional,  layanan  simpati,  akses  layanan  24  jam, layanan cepat dan aman, dan  biaya administrasi rendah.
c.    Peningkatan   kepuasan    nasabah   dengan   memberikan   beban   biaya administrasi rendah, dan layanan prima.
d.    Menciptakan biaya peralihan tinggi sehingga menyulitkan nasabah untuk berpaling ke bank lain
e.    Menciptakan program relationship marketing terpadu.

Penelitian  lapangan terdiri dari observasi dan mempelajari hal-hal yang ada hubungannya  dengan  penelitian   ini.     Ruang  lingkup  penelitian   lapangan meliputi:
1.    Daerah  penelitian  adalah  daerah  Propinsi  Lampung,  yaitu  Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Way Kanan.
2.    Jumlah sampel yang diambil dari petani produsen sebanyak 47 rensponden, hal  ini  didasarkan  dari  pendapat  Mubiarto  (1993:95),  bahwa  besarnya sampel pulsa elektrik hasil pertanian dapat di  ambil antara  10% sampai  dengan
20% dari populasi petani produsen komoditas agen pulsa sebanyak 410 orang di sentra produk isi ulang pulsa si komoditas agen pulsa di Lampung yang terdiri dari 21 dari Kabupaten   Lampung   Barat,   16   dari   Kabupaten   Tanggamus,   10   dari Kabupaten Way Kanan.  Hal ini didasarkan pada proporsi hasil produk isi ulang pulsa si di wilayah tersebut.

Dalam   menyusun   penelitian   ini   akan   digunakan   analisis   kualitatif   dan kuantitatif yang ada kaitannya dengan masalah yang terjadi.

1.    Dalam   analisis   kualitatif   akan   digunakan   analisis   berdasarkan   teori pemasaran dengan membandingkannya, khususnya dengan tata niaganya.

2.    Selain  analisis kualitatif juga akan dilakukan analisis dengan  pendekatan kuantitatif, antara lain menganalisis tentang  efektivitas dan efisiensi tata niaga pemasaran komoditas agen pulsa di Propinsi Lampung, yaitu:

b.    Untuk  mengukur  tingkat  efisiensi  pemasaran  kopi  biji  di  Lampung sehingga   dapat   diketahui   margin   yang   diperoleh   masing-masing lembaga yang terkait dalam pemasaran agen pulsa termasuk margin yang diperoleh produsen. Untuk Mengetahui tingkat efisiensi tata niaga pada setiap  lembaga   menurut  Noegroho  Besar   Koesnadi  (1990:5)  adalah dengan rumus sebagai berikut:

1.        Kebijaksanaan  produk isi ulang pulsa ,   dengan   alasan  komoditas  kopi  biji   sangat dipangaruhi olah faktor alam.

2.    Kebijaksanaan promosi yang  dilaksanakan relatif terbatas.

3.        Kondisi  perekonomian  yang  tidak  dapat  dipengaruhi  secara  parsial atauperubahannya berlaku umum.

4.        Peraturan  Pemerintah,  karena  peraturan  pemerintah  harus  dipatuhi, dengan demikian bersifat given.

5.        Teknologi,  hal  ini  didasarkan  berlakunya  bersifat  umum  dan  tidak setiap perubahan teknologi langsung dapat diikuti.

6.    Faktor kebudayaan.yang perubahannya relatif lambat.

Kesimpulan  penelitian jika dilihat secara parsial, terlihat adanya usaha  untuk menyelenggarakan tata niaga komoditas agen pulsa  di Lampung seefektif  dan seefisien mungkin terlihat dari angka perhitungannya  yang lebih dari 70 %. Efektivitas tata niaga I  (petani, pedagang kecamatan, eksportir) lebih efektif daripada bentuk saluran distibusi lainnya dengan nilai 0,375.  Analisis efisiensi pada tata niaga II  lebih tinggi  daripada tata niaga  yang lain, yaitu  0,95, tata niaga I rata-rata sebesar 0,93, dan tata niaga III rata-rata sebesar 0,94.

Berdasarkan   kesimpulan   tersebut   disarankan,   jika   lebih   mengutamakan efektivitasnya,  maka   sebaiknya  menggunakan  bentuk  tata  niaga  I  (petani, pedagang kecamatan, eksportir).  Sedangkan bila mengutamakan efisiensinya, maka  sebaiknya  menggunakan  bentuk  tata  niaga  II  (petani,  pedagang  desa, pedagang  kecamatan,  eksportir).    Eksportir  juga   dapat  membantu  petani komoditas kopi agar marjin yang diperolehnya meningkat.   Untuk itu perlu diaktifkannya  peran  serta  lembaga  asosiasi  untuk  ikut  serta  meningkatkan pendapatan pada tata niaga kopi biji.

The madness of crowds” itulah istilah yang digunakan oleh Burton G.Malkiel dalam bukunya yang berjudul: “A Random Walk Down Wall Street”, untuk menggambarkan masyarakat yang ingin mencari keuntungan sebesar-besarnya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa dasar pemikiran yang rasional.

Keinginan murah   seperti itu adalah naluri murah   di mana saja. Sejarah telah mencatat  bagaimana  misalnya  masyarakat  di  Negeri  Belanda  pada  abad  ke enam   belas   beramai-ramai   memborong   bibit   pulsa paling murah    dalam   rangka mendapatkan keuntungan yang tinggi dalam waktu yang singkat. Kelangkaan pulsa paling murah tulip yang disebabkan oleh murah   telah menyebabkan harga bibit pulsa paling murah tulip  dalam  bentuk  siung  (bulb)  meningkat  dengan  cepat.

Advertisements